Jadi gini, ini
adalah tulisan ketujuh gw di blog ini lol.
Mungkin kalian
yang akan baca blog ini
udah kenal gw
atau belom kenal gw sama sekali.
Kenapa bisa
belom kenal?
Karena mungkin
kalian nemuin tulisan yang maha unfaedah ini
secara gak sengaja.
Atau kenapa bisa
kenal?
Karena kalian emang berniat ngeklik link blog gw
dan baca salah satu
tulisannya!
(bakal gw share banyak-banyak di insta story gw!)
Jadi buat yang
belom kenal dan mau kenal,
Perkenalkan,
nama gw Rizky Ferdy.
Sore itu, langit gelap menolak ceria.
Sore itu, matahari sembunyi
tinggalkan luka.
Sore itu, hujan rintik turun menyebar
kalbu.
Sore itu,…
Namanya Selena, anak
fakultas teknik sipil yang punya penampilan dengan gaya khasnya sendiri. Rambut
diikat kebelakang dengan warna pirang coklat yang tidak mendominasi tapi
memberi kesan khusus saat pertama kali melihatnya,
Kacamata minus frame tebal berbentuk
kotak yang dipakai Selena untuk membantu dia melihat, dia bilang dia bisa saja
pake softlens tapi dia lebih senang
sesekali membenarkan posisi kacamatanya yang melorot dengan telunjuknya, dia
bilang sih agar terkesan pintar.
ripped
jeans
hitam ketat, baju longline warna biru
dongker, sepatu boots cokelat yang sudah bulukan tapi punya harga yang tidak
main-main, slingbag hitam yang tidak
satupun orang tahu didalamnya ada apa.
Dan satu buah buku dijepit pulpen
diluarnya yang dia pegang tapi gak pernah dimasukin kedalam slingbag-nya kecuali.. kecuali kapan?
“Tommy!”
“apa?”
“jadi kapan lu
mau ajak
Selena ngobrol?”
“kapan ya..”
Ya, kapan Tommy mau ngajak Selena
ngobrol? Pertanyaan yang bahkan gak sanggup dijawab oleh Tommy sendiri.
Tommy anak yang ceria, dia bisa bergaul
sama siapa aja! Dan siapa aja itu beneran siapa aja! Mulai dari teman sekelas,
dosen, satpam kampus, sampai abang-abang Ojek Online yang ngejemput adeknya.
Dia bisa ngomongin apa aja dengan siapa
aja, mulai dari bahasan super berat sampe yang ringan sekalipun, dan dia suka
beradu argumen tapi bukan untuk ngebuktiin siapa yang paling jago tapi untuk
nambah wawasannya, argumen akan berakhir kalo Tommy tau gimana jalan pikir
lawan bicaranya.
Dia juga gak mudah tersinggung, menurut
Tommy kasian sekali sama orang yang mudah tersinggung karena orang-orang
seperti itu lemah sampai kata-kata sekalipun bisa nyakitin mereka.
Meskipun Tommy mengganggap dirinya
kurang peka atau sensitif tapi dia bisa duduk diam berjam-jam memandangi satu
objek untuk diceritakan. Dia nulis puisi, cerita, teka-teki dari apapun yang
dia lihat.
Hal-hal diatas membuat Tommy jadi
pribadi yang mudah bergaul dan disenangi, lucunya semua hormon pemicu
kepribadiannya yang mengalir deras dari otak keseluruh tubuhnya itu dapat
tiba-tiba berhenti begitu saja menjadikan dia robot tanpa suara ketika disapa
Selena.
Pernah satu waktu sebelum masuk
pelajaran selanjutnya Tommy dan teman-temannya baru balik dari kantin masuk ke
ruangan, saat Tommy hendak meraih gagang pintu, pintu itu terbuka lebih dulu
dari dalam dan Selena keluar lalu berkata.
“hai”
Dan Tommy hanya diam membisu dengan
mulut melongo.
Tommy
dan Selena sebelumnya gak pernah saling ketemu, keduanya asing bagi satu sama
lain dan sampai akhirnya mereka dipertemukan di satu kelas di awal semester. Gak
perlu waktu lama buat Selena untuk menarik perhatian Tommy, Selena memang
cantik, tapi cantik tidak menjadi alasan utama kenapa Tommy tertarik dengannya.
Waktu itu Tommy belum tau nama Selena
siapa dan Tommy terlalu malu untuk berkenalan, akhirnya dengan cara yang cemen
dia tau nama Selena tanpa harus nanyain hal tersebut secara langsung.
Setiap pertemuan kelas, dosen pasti
melakukan absen dan tinggal menunggu namanya dipanggil maka Tommy akan tau nama
Selena.
“Helena”
“iya saya pak!”
YES! Namanya Helena! Senangnya bukan
main Tommy saat tau nama Selena adalah Helena.
Waktu
kelas udah kelar, banyak siswa yang main kekantin dan Selena jadi salah
satunya, tapi berbeda dari siswa lain yang duduk bersama temen-temennya, Selena
memilih duduk sendiri.
Melihat kesempatan ini Tommy pun
berjalan kemeja Selena.
“Helena ya?”
“bukan” Selena
menggelengkan
kepalanya menahan ketawa.
“oh, tapi tadi
Pak Bondan manggil
nama Helena dan lu angkat tangan?”
“iya, tapi nama
gw Selena,
bukan Helena. Pak Bondan
salah panggil nama”
Selena tersenyum.
“wah, sialan tuh
pak Bondan,
btw, gw Tommy”
Tommy kemudian menyodorkan
tangannya untuk
bersalaman,
“hai Tommy”
Selena menyambut tangan Tommy dan mereka bersalaman yang kemudia menjadi penuh
makna buat Tommy, disaat itu, disaat tangan Selena bersalaman dengan tangan
Tommy, hanya satu hal yang ada dipikiran Tommy.
“telapak tangan Selena kasar”
“lu suka nyuci
ya?” tanya Tommy
“iya, kok lu
tau?”
“karna lu udah
mencuci-cuci hatiku”
“HAHAHA!
Gombalan macam
apa itu! Basi banget lho!”
kata Selena sambil ketawa lepas.
“dibanding
gombalan
kayaknya lebih tepat
kalo jadi jokes
deh,
soalnya lu ketawa”
“abisnya lucu,
aneh lagi,
apaan coba?”
“ya seenggaknya
lu ketawa,
artinya gw berhasil dong”
“iya ya”
Tapi
Selena masih ketawa
gak berenti-berenti dari tadi.
“tapi ini serius
lho, lu suka nyuci?”
“kenapa
emangnya?”
“telapak tangan
lu kasar”
“WOW! Frontal sekali
ya anda!”
kata Selena kaget.
“kejujuran
adalah fondasi
hubungan paling baik lho”
“hubungan apa
coba?”
tanya Selena menahan senyum.
“hubungan
pertemanan
lewat media sosial,
lu punya line? Instagram?”
Dan dengan cara seperti itu Tommy
mendapatkan kontak Selena, meskipun dalam minggu-minggu awal sudah berdebu
karena Tommy sama sekali gak berani buat chat duluan.
Tommy Cuma berani chat duluan ketika
Selena post Story di instagramnya, dan semakin sering hal itu terjadi
menjadikan chat mereka jadi lebih intense, meskipun didunia nyata mereka akan
sangat jarang sekali mengobrol!
Tommy
menjadi pribadi yang lucu ketika chat ataupun jika punya kesempatan berbicara
dengan Selena.
Dan berkali-kali Selena selalu melempar
kata-kata.
“lucu lho!”
“ngakak”
Akhirnya sampe disatu titik, Tommy
merespon dengan
“Kata temen gw, kalo dibilang lucu sama
cewe, jadinya friendzone lho!”
Sejak itu, Selena gak pernah bales chat
Tommy lagi, bahasan mereka selalu jadi serius dan awkward, setiap kali Tommy berusaha ngelucu Selena tak lagi
merespon seperti dulu.
Sampai akhirnya, di jam makan siang, di
kantin yang ramai sesak penuh orang dan tanpa tempat duduk Selena berdiri
melihat sekelilingnya berharap ada satu kursi saja yang kosong untuk dia
menyantap makan siangnya.
“Selena!”
Suara itu
berhasil memecah keramaian kantin dan mengubahnya menjadi keheningan ketika
semua mata tertuju pada asal suara itu.
“Gw sayang lu!”
Teriak Tommy
dari pintu masuk kantin kepada Selena yang kebingungan lalu tersenyum.
“Gw lebih sayang
lu!” Selena membalas dengan senyum yang lebar, yang tentu membuat Tommy ikut
tersenyum juga.
“tapi gw tau lu
bercanda, karna gw juga!”
Sambung Selena
menghapus senyum lebar diwajah Tommy.
Selena langsung menghampiri satu bangku
kosong yang dari tadi dia cari-cari untuk menjadi tongkrongan tempat dia
menikmati makan siangnya meninggalkan Tommy didepan pintu kantin yang terdiam
tak tahu harus bagaimana.
Sore
itu, warna abu-abu mendominasi langit yang menjadi atap bumi, titik-titik air
hujan mulai turun basahi aspal, rerumputan, daun, dan tangan-tangan yang
berusaha menutupi kepala agar tak terlalu terekspos air hujan.
Tommy duduk sendirian, melihat keluar
jendela, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, merenungkan apa yang
harus dia perbuat, dan mempertanyakan apa yang menjadi kesalahannya.
Saat membuka pintu kelas, Tommy melihat
Selena duduk sendirian di kelas, karena memang itu belum jam masuk kelas mata
mereka saling bertemu.
“hai Tommy”
Tommy diam tak mengubris sapaan Selena
yang mulai kebingungan dengan sikap Tommy, kemudian Tommy menghampiri Selena
yang masih kebingungan.
“kenapa Tom?”
Tommy merobek kertas dari bukunya
kemudian mulai menulis dengan serius, dan dia melipat kertas itu kepada Selena.
“buka waktu
pulang, jangan sekarang”
≠
Itu hari Kamis,
hari itu gw gak ada kuliah tapi akan ada ujian yang luar biasa sulit jadi gw
memutuskan datang kekampus buat belajar, meskipun hari mendung ya! Duh!
Dan beberapa kali udah gw singgung kalo
lobi kampus gw paling enak buat jadi tempat nongkrong, dan gw memutuskan buat
duduk di lobi sambil nunggu temen-temen gw, dan dari jauh ada sosok yang
mencuri perhatian gw.
Anak teknik sipil dengan longline biru dongker, berkacamata, dengan
rambut iket kebelakang lagi megang satu kertas kecil sambil senyum-senyum
sendiri. Kemudian gw berpikir, apa sih yang ada dikertas putih itu sampe dia
senyum-senyum sendiri kayak orang gila?
Mungkin contekan ?
Mungkin bukti tf ?
Mungkin nomor hp gebetannya ?
Mungkin peta harta karun ?
Atau mungkin… sebuah tulisan dari orang
yang spesial yang memiliki makna spesial seperti…
Sore itu, langit gelap menolak ceria.
Sore itu, matahari sembunyi
tinggalkan luka.
Sore itu, hujan rintik turun menyebar
kalbu.
Sore itu, aku sayang kamu.
Benar-benar, menyayangimu.
Tapi gw gak
pernah tau kan?
Dan gw harus segera belajar buat persiapan uts gw.
Yaudahlah ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar