Sabtu, 07 April 2018

Sore Itu


Jadi gini, ini adalah tulisan ketujuh gw di blog ini lol.

Mungkin kalian yang akan baca blog ini
udah kenal gw
atau belom kenal gw sama sekali.

Kenapa bisa belom kenal?
Karena mungkin
kalian nemuin tulisan yang maha unfaedah ini
secara gak sengaja.

Atau kenapa bisa kenal?
Karena kalian emang berniat ngeklik link blog gw
dan baca salah satu tulisannya!
(bakal gw share banyak-banyak di insta story gw!)

Jadi buat yang belom kenal dan mau kenal,
Perkenalkan, nama gw Rizky Ferdy.

Dan ini cerita gw…










Sore itu, langit gelap menolak ceria.
            Sore itu, matahari sembunyi 
            tinggalkan luka.
            Sore itu, hujan rintik turun menyebar kalbu.
            Sore itu,…




Namanya Selena, anak fakultas teknik sipil yang punya penampilan dengan gaya khasnya sendiri. Rambut diikat kebelakang dengan warna pirang coklat yang tidak mendominasi tapi memberi kesan khusus saat pertama kali melihatnya,

Kacamata minus frame tebal berbentuk kotak yang dipakai Selena untuk membantu dia melihat, dia bilang dia bisa saja pake softlens tapi dia lebih senang sesekali membenarkan posisi kacamatanya yang melorot dengan telunjuknya, dia bilang sih agar terkesan pintar.

ripped jeans hitam ketat, baju longline warna biru dongker, sepatu boots cokelat yang sudah bulukan tapi punya harga yang tidak main-main, slingbag hitam yang tidak satupun orang tahu didalamnya ada apa.

Dan satu buah buku dijepit pulpen diluarnya yang dia pegang tapi gak pernah dimasukin kedalam slingbag-nya kecuali.. kecuali kapan?

“Tommy!”

“apa?”

“jadi kapan lu mau ajak
Selena ngobrol?”

“kapan ya..”

Ya, kapan Tommy mau ngajak Selena ngobrol? Pertanyaan yang bahkan gak sanggup dijawab oleh Tommy sendiri.

Tommy anak yang ceria, dia bisa bergaul sama siapa aja! Dan siapa aja itu beneran siapa aja! Mulai dari teman sekelas, dosen, satpam kampus, sampai abang-abang Ojek Online yang ngejemput adeknya.

Dia bisa ngomongin apa aja dengan siapa aja, mulai dari bahasan super berat sampe yang ringan sekalipun, dan dia suka beradu argumen tapi bukan untuk ngebuktiin siapa yang paling jago tapi untuk nambah wawasannya, argumen akan berakhir kalo Tommy tau gimana jalan pikir lawan bicaranya.

Dia juga gak mudah tersinggung, menurut Tommy kasian sekali sama orang yang mudah tersinggung karena orang-orang seperti itu lemah sampai kata-kata sekalipun bisa nyakitin mereka.

Meskipun Tommy mengganggap dirinya kurang peka atau sensitif tapi dia bisa duduk diam berjam-jam memandangi satu objek untuk diceritakan. Dia nulis puisi, cerita, teka-teki dari apapun yang dia lihat.

Hal-hal diatas membuat Tommy jadi pribadi yang mudah bergaul dan disenangi, lucunya semua hormon pemicu kepribadiannya yang mengalir deras dari otak keseluruh tubuhnya itu dapat tiba-tiba berhenti begitu saja menjadikan dia robot tanpa suara ketika disapa Selena.

Pernah satu waktu sebelum masuk pelajaran selanjutnya Tommy dan teman-temannya baru balik dari kantin masuk ke ruangan, saat Tommy hendak meraih gagang pintu, pintu itu terbuka lebih dulu dari dalam dan Selena keluar lalu berkata.

“hai”

Dan Tommy hanya diam membisu dengan mulut melongo.

            Tommy dan Selena sebelumnya gak pernah saling ketemu, keduanya asing bagi satu sama lain dan sampai akhirnya mereka dipertemukan di satu kelas di awal semester. Gak perlu waktu lama buat Selena untuk menarik perhatian Tommy, Selena memang cantik, tapi cantik tidak menjadi alasan utama kenapa Tommy tertarik dengannya.

Waktu itu Tommy belum tau nama Selena siapa dan Tommy terlalu malu untuk berkenalan, akhirnya dengan cara yang cemen dia tau nama Selena tanpa harus nanyain hal tersebut secara langsung.

Setiap pertemuan kelas, dosen pasti melakukan absen dan tinggal menunggu namanya dipanggil maka Tommy akan tau nama Selena.

“Helena”

“iya saya pak!”

YES! Namanya Helena! Senangnya bukan main Tommy saat tau nama Selena adalah Helena.

            Waktu kelas udah kelar, banyak siswa yang main kekantin dan Selena jadi salah satunya, tapi berbeda dari siswa lain yang duduk bersama temen-temennya, Selena memilih duduk sendiri.

Melihat kesempatan ini Tommy pun berjalan kemeja Selena.

“Helena ya?”

“bukan” Selena menggelengkan
kepalanya menahan ketawa.

“oh, tapi tadi Pak Bondan manggil
nama Helena dan lu angkat tangan?”

“iya, tapi nama gw Selena,
bukan Helena. Pak Bondan
salah panggil nama”
Selena tersenyum.

“wah, sialan tuh pak Bondan,
btw, gw Tommy”
Tommy kemudian menyodorkan
tangannya untuk bersalaman,

“hai Tommy” Selena menyambut tangan Tommy dan mereka bersalaman yang kemudia menjadi penuh makna buat Tommy, disaat itu, disaat tangan Selena bersalaman dengan tangan Tommy, hanya satu hal yang ada dipikiran Tommy.

“telapak tangan Selena kasar”

“lu suka nyuci ya?” tanya Tommy

“iya, kok lu tau?”

“karna lu udah mencuci-cuci hatiku”

“HAHAHA! Gombalan macam
apa itu! Basi banget lho!”
kata Selena sambil ketawa lepas.

“dibanding gombalan
kayaknya lebih tepat 
kalo jadi jokes deh, 
soalnya lu ketawa”

“abisnya lucu, aneh lagi,
apaan coba?”

“ya seenggaknya lu ketawa, 
artinya gw berhasil dong”

“iya ya” 
Tapi Selena masih ketawa
gak berenti-berenti dari tadi.

“tapi ini serius lho, lu suka nyuci?”

“kenapa emangnya?”

“telapak tangan lu kasar”

“WOW! Frontal sekali ya anda!”
kata Selena kaget.

“kejujuran adalah fondasi
hubungan paling baik lho”

“hubungan apa coba?”
tanya Selena menahan senyum.

“hubungan pertemanan 
lewat media sosial, 
lu punya line? Instagram?”

Dan dengan cara seperti itu Tommy mendapatkan kontak Selena, meskipun dalam minggu-minggu awal sudah berdebu karena Tommy sama sekali gak berani buat chat duluan.

Tommy Cuma berani chat duluan ketika Selena post Story di instagramnya, dan semakin sering hal itu terjadi menjadikan chat mereka jadi lebih intense, meskipun didunia nyata mereka akan sangat jarang sekali mengobrol!

            Tommy menjadi pribadi yang lucu ketika chat ataupun jika punya kesempatan berbicara dengan Selena.

Dan berkali-kali Selena selalu melempar kata-kata.
“lucu lho!”
“ngakak”
Akhirnya sampe disatu titik, Tommy merespon dengan
“Kata temen gw, kalo dibilang lucu sama cewe, jadinya friendzone lho!”

Sejak itu, Selena gak pernah bales chat Tommy lagi, bahasan mereka selalu jadi serius dan awkward, setiap kali Tommy berusaha ngelucu Selena tak lagi merespon seperti dulu.

Sampai akhirnya, di jam makan siang, di kantin yang ramai sesak penuh orang dan tanpa tempat duduk Selena berdiri melihat sekelilingnya berharap ada satu kursi saja yang kosong untuk dia menyantap makan siangnya.

“Selena!”
Suara itu berhasil memecah keramaian kantin dan mengubahnya menjadi keheningan ketika semua mata tertuju pada asal suara itu.

“Gw sayang lu!”
Teriak Tommy dari pintu masuk kantin kepada Selena yang kebingungan lalu tersenyum.

“Gw lebih sayang lu!” Selena membalas dengan senyum yang lebar, yang tentu membuat Tommy ikut tersenyum juga.

“tapi gw tau lu bercanda, karna gw juga!”
Sambung Selena menghapus senyum lebar diwajah Tommy.

Selena langsung menghampiri satu bangku kosong yang dari tadi dia cari-cari untuk menjadi tongkrongan tempat dia menikmati makan siangnya meninggalkan Tommy didepan pintu kantin yang terdiam tak tahu harus bagaimana.





            Sore itu, warna abu-abu mendominasi langit yang menjadi atap bumi, titik-titik air hujan mulai turun basahi aspal, rerumputan, daun, dan tangan-tangan yang berusaha menutupi kepala agar tak terlalu terekspos air hujan.

Tommy duduk sendirian, melihat keluar jendela, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, merenungkan apa yang harus dia perbuat, dan mempertanyakan apa yang menjadi kesalahannya.

Saat membuka pintu kelas, Tommy melihat Selena duduk sendirian di kelas, karena memang itu belum jam masuk kelas mata mereka saling bertemu.

“hai Tommy”

Tommy diam tak mengubris sapaan Selena yang mulai kebingungan dengan sikap Tommy, kemudian Tommy menghampiri Selena yang masih kebingungan.

“kenapa Tom?”

Tommy merobek kertas dari bukunya kemudian mulai menulis dengan serius, dan dia melipat kertas itu kepada Selena.

“buka waktu pulang, jangan sekarang”






Itu hari Kamis, hari itu gw gak ada kuliah tapi akan ada ujian yang luar biasa sulit jadi gw memutuskan datang kekampus buat belajar, meskipun hari mendung ya! Duh!

Dan beberapa kali udah gw singgung kalo lobi kampus gw paling enak buat jadi tempat nongkrong, dan gw memutuskan buat duduk di lobi sambil nunggu temen-temen gw, dan dari jauh ada sosok yang mencuri perhatian gw.

Anak teknik sipil dengan longline biru dongker, berkacamata, dengan rambut iket kebelakang lagi megang satu kertas kecil sambil senyum-senyum sendiri. Kemudian gw berpikir, apa sih yang ada dikertas putih itu sampe dia senyum-senyum sendiri kayak orang gila?

Mungkin contekan                                ?
Mungkin bukti tf                                   ?
Mungkin nomor hp gebetannya ?
Mungkin peta harta karun                     ?

Atau mungkin… sebuah tulisan dari orang yang spesial yang memiliki makna spesial seperti…



Sore itu, langit gelap menolak ceria.
            Sore itu, matahari sembunyi
            tinggalkan luka.
            Sore itu, hujan rintik turun menyebar kalbu.
            Sore itu, aku sayang kamu.
            Benar-benar, menyayangimu.





Tapi gw gak pernah tau kan?
Dan gw harus segera belajar buat persiapan uts gw.
Yaudahlah ya!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar