Ini
adalah tulisan ke13 yang gw tulis di blog ini, bukan cerita gw tapi bukan juga
sebuah fiksi tidak berarti juga sebuah kenyataan melainkan hanya sebuah curahan
hati (lol, lebay amat)
Jadi
ini adalah sebuah tulisan hasil perkembangbiakan dari 2 sendok gaya menulis gw,
3 centong kegelisahan di hati, 4 piring posisi liburan yang super santai, dan…
Sebuah
cerita dari dia,
Dari
seorang pria yang tak pernah bercerita.
“Aku pernah menulis
sesuatu dan menyimpannya
di tempat yg ramai akan
kertas-kertas nilaimu,
entah dimana sekarang
keberadaan kertas itu.
Mungkin jadi kenangan
untukku”
Baiklah,
gw akan beri kalian waktu 10 detik untuk menyebut 3 tempat yang kalian rasa
menjadi tempat yang menarik, luar biasa, romantic, dan paling sempurna untuk
jatuh hati!
1…
2…
3…
4…
5…
6…
7…
8…
9…
10…
YAK, cukup!
Gw
rasa akan banyak tempat yang terlintas di pikiran kalian dalam waktu 10 detik
tadi atau mungkin gak ada satupun yang muncul di pikiran kalian?
Kalau
ada yang terlintas, biar gw tebak mungkin ada yang di rumah makan, pantai,
pasar malam, lapangan olahraga, studio, dan masih banyak lagi bukan?
Tapi
seperti yang pernah gw singgung di tulisan gw sebelumnya (bisa kalian baca Disini)), yaitu sebuah konklusi dari
apa yang gw alami, meskipun langsung dan tidak langsung yang memberi gw teori
kalau “Lu bisa jatuh hati di manapun dan dengan siapapun”
Jadi,
lu bisa jatuh hati, bisa tertarik sama orang entah siapapun itu dimana aja! Gak
ada rumus khusus yang mendefinisikan hal tersebut, sama seperti cerita ini.
Cerita yang akan dimulai dari tempat yang lu gak akan nyangka bisa buat lu
jatuh hati sama seseorang, yaitu Kontrakan.
Btw,
ini serius lho. Gw akan memulai kisah ini dengan bilang kalau Pria yang tak
pernah bercerita ini jatuh hati pada seorang perempuan di sebuah kontrakan.
Mungkin sebagian besar dari kalian akan berpikir “ha?! Kontrakan?!” dengan tone suara iklan Ramayana yang viral itu.
Tapi
bagi kami terutama pria itu kontrakan ini menyimpan banyak kenangan, kenangan
yang takkan bisa digantikan, beberapa cerita tentang persahabatan, perdebatan, percintaan,
kejujuran dan kebohongan, permainan, gelak tawa super keras sampai hu-hu-an tangisan yang tulus dari dalam
hati.
Lebih
dari sebuah “kontrakan” tempat itu dapat kami sebut sebagai Rumah, kedua.
Hai adalah kata pertama yang Didi ucapkan ketika bertemu Vika, yang luar
biasanya tak ditanggapi cewek berambut
panjang berpipi tembam dan cantik itu, memang sih saat itu dia sedang melihat
buku.
“sialan”
Gumam Didi dalam hati.
Tapi tidak ada kata-kata seperti “sombong” atau “arogan” yang menyeruak
dipikiran Didi saat diabaikan Vika cuma ada “angkuh” (gak deh, bercanda kok) Didi sama sekali tidak berpikir Vika adalah
orang yang seperti dan beberapa lama setelah pertemuan pertama mereka yang luar
biasa itu hal tersebut terbukti.
Vika
adalah orang yang easy-going, kepo (dalam konteks penasaran tapi bukan ingin
mencampuri urusan orang ya!), supel, dan mudah sekali tertawa, mau sereceh
apapun keadaannya. Membuat Vika tertawa adalah hal yang sederhana, sehingga tawa
yang tulus itu membuat Didi jatuh hati padanya.
Meskipun mereka sering menghabiskan waktu bersama, tetapi mereka tidak
benar-benar bersama bahkan “hai” dari Didi waktu itu adalah satu-satunya kata
yang pernah ada diantara mereka berdua, sampai di suatu malam semua itu
berubah.
Vika
tidak tinggal sendiri di kontrakan itu, dia tinggal bersama 2 senior dari
sekolah yang sama juga mereka semua adalah Inner
circle kami, di satu malam 2 senior ini punya jadwal acara (sweet seventeen, kah?) yang mengharuskan
mereka menginap.
Vika sejak awal bukan tipe orang yang suka sendirian, dia kesepian, dia
perlu teman bicara akhirnya malam itu Vika mengirimkan DM melalui Instagram untuk Didi dan ini adalah pertama
kalinya ada perbincangan diantara mereka semenjak “hai” yang tidak terbalas itu
(yang suka Didi, yang DM duluan Vika,
luar biasa.)
Saat libur semesteran
tiba, Vika balik ke kota asalnya Didi yang cemen (gw beneran hujat lu.) tidak berani melakukan apa-apa, mungkin dia
terlalu takut untuk mendekati wanita, karena dia pernah ditinggal oleh kekasih
lamanya (duh duh duh).
Komunikasi antara Vika dan Didi terhenti karena Didi tidak cukup berani
untuk tetap menjaga hubungan antara mereka berdua, entah apa yang ada dipikiran
Didi saat itu. Mungkin dia berpikir akan lebih baik jika hubungan terjalin
secara verbal disbanding non-verbal. Jadi Didi berharap, ketika Vika kembali ke
kontrakan dia bisa mendekati Vika, tapi…
Vika berubah.
Saat kembali, Vika tidak
bersikap seperti biasanya dia mulai menjaga jarak dan menjauh dari Didi, dia
mundur secara perlahan (dikira baris
berbaris kali). Sedih? Tentu iya, sedih adalah hal yang Didi rasakan, tapi
jauh dari itu kesedihan yang paling dalam adalah ketika Didi tahu kalau Vika didekati
oleh teman Didi sendiri dan yang lebih menyedihkan lagi, Didi menjadi orang
terakhir yang tahu akan hal itu.
Didi mundur secara
perlahan, mencoba untuk melupakan karena menurutnya. Tiada yang salah hanya dia
manusia bodoh, yang biarkan semua ini permainkan dia berulang kali, Didi
mencoba bertahan sekuat hati bagaikan karang yang dihempas sang ombak, tapi
sampai kapan dia harus menanggungnya? Kutukan ini, jadi Didi bersemayam dalam
kalbu, dan melupakan Vika.
Ketika Didi berhasil
melupakan Vika, dia kembali. Kembali untuk mempertanyakan sesuatu yang membuat
gw sendiri bingung, siapa yang mundur sebenarnya! Vika datang ke Didi mulai
mencurahkan isi hatinya dan bertanya kenapa Didi mundur waktu itu, kenapa Didi
berubah saat itu.
“Aku bodoh, yang bisa ku lakukan hanyalah menyerah”
Ungkap Didi.
“hasil dari sebuah pilihan
itu hanya ada dua,
dewasalah dari pilihan yg
kamu tolak dan belajarlah dari pilihan yg kamu pilih”
sambung Didi untuk
meyakinkan pada Vika dan pada dirinya sendiri kalau dia tidak apa-apa atas
keadaan yang terjadi ini.
Mendengar
hal itu Vika yakin untuk melupakan Didi dan mencoba membangun sebuah hubungan
dengan teman Didi tapi, tidak ada kecocokan yang tumbuh diantara mereka,
melihat hal ini Didi mencoba untuk memperbaiki keadaan diantara dia dan Vika.
Mereka
berdua kembali (ke Denpasar dong, iya nih
receh emang, maaf ya) bersama,
bersama untuk saling nyaman satu sama lain. Tapi konfliknya tidak selesai
sampai disitu, karena kalo selesai gw nulis apalagi dong?
Muncul
konflik baru diantara mereka, sebuah masalah yang kenapa baru sekarang
dipermasalahkan oleh Vika, yaitu perbedaan umur karena umur mereka berdua
ternyata berbeda 100 tahun (iya nih receh
emang, maaf ya)
“kenapa baru sekarang
dia membahasnya?”
“kenapa menyalahkan
usia ketika umur manusia tidak ada yg tahu kapan berakhir?”
“Yah
aku tau aku mngkin terlalu tua untuknya nanti, tapi apa yg salah?”
“semua
orang juga bakal tua kok hanya bagaimana mereka menyingkapinya”
“aku
sedih aku kesal aku egois aku tidak ingin dia pergi begitu saja”
Hal-hal tersebut
terngiang-ngiang mengisi kegelisahan di hati dan pikiran Didi.
“Tapi aku sadar, iyah aku takut membuatmu
sedih suatu hari nanti
dan membuatmu kecewa
akan kekuranganku ini”
Didi
merenungi hal ini selama dua hari berturut-turut, menurutnya ini bukanlah
sebuah masalah ibarat kata “mempermasalahkan hal yang tidak perlu dipermasalahkan”
Mungkin Didi tua (agak lucu sih waktu ngetik ini) dan itu membuat Vika sedih, hidup
manusia itu dihitung dari pengalaman dan kenangan tetapi dia jahat tidak
memikirkan perasaannya.
“ky,
gw sayang sama dia bukan berarti gw harus memilikinya, karena menyayangi
seseorang tujuannya untuk membuat dan melihatnya bahagia.”
“jika
dia harus bahagia tapi bukan dari gw maka gw harus menyayangi dia untuk bahagia
meski tidak dapat memilikinnya.”
“Karena
mungkin kalo dia sama gw, gw takut dia selalu memikirkannya dan sedih.”
Gw
sendiri cuma diem waktu denger Didi bilang gitu ke gw, tapi kemudian gw nanya ke
dia.
“lu
sayang gak sama dia?”
Didi
cuma jawab “sayang”
“ya
keja..”
Belom
sempet gw nyelesain kalimat gw, Didi langsung memotong dengan.
“karena
itu gw harus membiarkan dia sama yg lebih baik dari gw karena gw menyayangi dia”
Lalu
Didi tersenyum, gw juga ikut senyum mendengar kalimat itu, kalimat yang
mengikhlaskan seseorang yang kita sayang.
“gw
memang sudah seharusnya sadar diri.
Siapa
gw sampai berani mengharapkan sesuatu yang tak bisa gw raih?”
“terus lu akan gimana?”
Tanya gw.
“Mungkin jarak yg jauh membantu gw
sama dia saling melupakan.
Sekarang gw akan nyoba perlahan
berjuang
untuk diri gw sendiri kedepannya nanti.
Untuk bahagia ngeliat dia pergi nanti
dan juga untuk ngeliat dia bahagia nanti setelah gw sama dia berpisah jauh...
Dan suatu hari ketika gw sama
dia
akan gak sengaja ketemu,
mugkin gw dan dia akan jadi dua orang
yang
benar-benar asing,
saling menceritakan kisah kami”
seperti
itulah cerita mereka,
sebuah
kisah yang keluar dari mulut seorang pria
yang tak
pandai merangkai kata, seorang pria
yang tak
pandai bercerita.
“Ui Vikaa, ape kabar ka?”
Sapa Didi dengan semangat saat ketemu
Vika.
“pasti kabar baek kan? Haha”
“RINGEM”
“auk, k selalu ringem kek ku, males
ah”
Mungkin gw
akan post tulisan asli Didi
Sebelum gw
kembangin sendiri jadi post ini.
Adios...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar