Senin, 29 Oktober 2018

Sebuah Tulisan Patah Hati


“tahu apa yang lebih sakit dari patah hati?”

“apa?”

“patah leher”

“dih, serius!”

“gak deh, bercanda kok. Hahaha…
…yang lebih sakit dari patah hati adalah ketika lu melakukan banyak hal demi dia, selalu ada untuk dia, memenuhi keinginan dia dan takkan pernah pergi dari dia tapi dia cuma bertanya ‘apa gw pernah minta lu gitu ke gw?’ “

“itu mah bukan patah lagi, itu hancur udah”

“hahaha, iya hancur banget”

“terus gimana?”

“harus belajar,
… belajar ikhlas”






Lu sedang duduk berdua dengan pujaan hatimu direstoran kesukaan kalian, restoran ramen kesukaan kalian. Bukan kesukaan kalian sih, tapi kesukaan dia. Sebagai sebuah restoran favorit kalian, restoran ini gagal kenapa? Karena kalian jarang makan disitu, tapi dia sering hanya saja bukan bersama lu.

Lu yang sedang ditunggu-tunggu oleh dia yang sudah tau apa makanan yang akan dipesannya, lucu sekali bukan? Ketawa dong, dia sudah tau menu apa yang akan dipesannya sedangkan luu masih bingung dengan apa santap malam lu hari itu.


Kedua makanan kalian sudah diantar di meja makan, tak ada kata yang keluar dari mulut kalian karena hubungan kalian yang sudah merenggang, begitu canggung, begitu dingin rasanya.

Sampai akhirnya di suapan terakhir, kalian terdiam bergantian meminum minuman yang free refill itu, ocha free refill yang mengalir turun melalui kerongkongan dan melepas dahaga kalian, lalu pada akhirnya dia membuka pembicaraan.

          “jadi, gimana lu sama yang baru?”

Lu bingung, apanya yang baru? Sepatu lu? Jam tangan lu? Atau baju baru lu?

          “apanya yang baru?”

          “ya, gebetanmu itu lho, gebetan baru mu!”

          “oh.. gak ada, gak ada deket sama siapa-siapa”

Tidak banyak hal yang lu katakan setelah itu, untuk ukuran orang yang selalu bicara dan banyak bicara, saat itu lu cuma diam karna ingin mendengar banyak dari dia.

Mendengar cerita yang keluar dari mulutnya seperti mengoyak-oyak hati lu, kenapa? Karena cerita yang disampaikan dia adalah tentang orang lain yang begitu beruntung menurut lu karena bagi dia, orang itu…

          Orang yang tak pernah dia miliki,
          tapi di hatinya orang itu selalu hidup.

Mau seperti apa lagi usaha lu mengalahkan orang itu? Bertapa sampai ujung bumi? Bumi kan bulat! Gimana bisa ada ujungnya! Dengan kata lain, lu akan kalah sekuat apapun lu mencoba, adil sekali bukan?

          Tak ada kegiatan berarti yang bisa lu lakuin untuk melawan kenyataan ini, lu cuma bisa terdiam mendengar kata demi kata yang keluar dari mulutnya yang menceritakan seberapa hebatnya orang ini melukai dia, meninggalkan dia dalam sebuah lubang luka, padahal ada lu yang bisa menyayanginya.
Lu cuma diam, lu tidak melakukan apa-apa bukan karena lu takut.

Tapi di matamu,
Dia memang sudah baik-baik saja tanpamu.
          Kamu berdoa untuk kebahagiaan dia,
          Dengan rela-nya kamu duduk berdua dengannya,
          hanya untuk mendengar dia bercerita
          tentang orang lain.
          Begitu ikhlas dirimu menyayanginya.

          Lalu setelah serusak itu, sesakit itu atau bahkan sepatah dan sehancur itu kenapa dirimu masih bertahan? Bodoh kah dirimu? Atau apa?
Karena selalu ada sebuah perkataan atau frasa,

jangan pernah menyerah, kenapa?
Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok

Itu adalah omong kosong yang selalu lu telan setiap kali lu merasa sakit, seolah bumi isinya hanya dia saja. Sebuta itukah anda?


          Kadang disuatu waktu lu akan bertemu dengan seseorang dan terlihat begitu jelas kalau kalian berdua memang ditakdirkan bersama entah itu sebagai pasangan, sebagai teman atau sebagai keluarga atau memang sebagai sesuatu yang berbeda dari ketiga hal itu, sesuatu yang jauh lebih buruk.

Lalu kemudian yang kalian lakukan hanyalah berusaha, entah itu berusaha untuk mengerti satu sama lain , berusaha untuk menyayangi satu sama lain sampai menjadi duo seperjuangan.

Lu akan bertemu dengan orang-orang seperti ini disepanjang hidup lu, muncul dari mana aja, dan di kondisi seaneh apapun. Meskipun begitu yang pasti orang-orang ini akan membuat lu merasa begitu hidup!

Jujur, gw gak tau hal itu membuat gw percaya sama yang namanya kebetulan, takdir, atau cuma ketidaksengajaan. Tapi yang pasti orang-orang seperti ini membuat gw percaya pada sesuatu, entah apa itu.


          Sayangnya, sebegitu sayangnya seperti diejek kehidupan, timing tidak pernah berpihak pada lu. Lu terus bilang sama diri lu sendiri kalau kalian berdua ketemu di waktu yang salah, mungkin satu tahun satu hari lagi dari sekarang lu berdua akan ketemu di sebuah café yang nun jauh di sana dan cuma jualan kopi, dan lu berdua memulai ulang dari awal lagi.


Mungkin bukan satu tahun lagi tapi mungkin 5 tahun lagi,  jalan lu sama jalan dia akan kembali bersimpangan lalu lu akan memberi tahu dia pernah suatu waktu seberapa jatuh hatinya lu sama dia. Dan kalian berdua akan mentertawakan tentang bagaimana kalian menyakiti satu sama lain.

Lu tidak kehilangan dia, karena lu tidak pernah memiliki dia, sesederhana dan semenyakitkan itu. Meskipun lu berpikir dia-lah orang yang lu cari-cari, dia-lah orang yang lu tunggu-tunggu.

          Seorang teman pernah berkata seperti ini pada kesayangan-nya.

          mungkin, saat ini gw terlihat
           seperti berhenti mengejarmu.
          Tapi sejujurnya dari lubuk hati yang paling dalam,
          gw masih peduli.
          Begitu sakit rasanya ketika tahu
          kalau lu tidak bisa jadi milik gw.
          Tapi,
          Tahu kalau lu gak akan bahagia sama gw,
           jauh lebih sakit rasanya.
           Gw berharap lu bahagia.
           Gw berharap semua hal terbaik untuk lu.
          gw akan menepati janji gw
          dan gw akan kembali ketika saat itu tiba,
          atau, lu bisa duluan kembali ke gw.”

          Lu akan begitu berharap dia berubah untuk lu, menjadi milik lu lagi sehingga lu akan terus-terusan menggenggam erat hal yang begitu menyakitkan bagi lu hanya karna lu akan berlandas pada “suatu saat nanti”.

Coba dipikir, kalau lu memang penting baginya tidak perlu lisan-mu meminta dia berubah. Dia akan berubah dengan sendirinya untuk menjaga lu disampingnya, dia akan berubah tapi bukan untukmu bukan juga denganmu.

          Lalu jika akhirnya lu memutuskan untuk menyerah, Apakah dia akan merasa begitu kehilangan? Apakah dia akan merasa lu pernah begitu menyayanginya? Saat ini lu tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, Kembali bertemu dengannya atau tidak bertemu dia sama sekali.

Karena saat lu merasa lu sudah move on melupakannya, ada di satu titik ketika lu berkumpul bermain bersama teman-teman lu. Mereka tiba-tiba bertanya hal yang absurd.

          “kalau Tuhan mengabulkan
           satu keinginan lu sekarang.
          Apa yang lu minta?”

Dan lu akan minta dia kembali pada lu.



Akhirnya, kamu akan menarik nafas begitu panjang
Bertanya pada diri sendiri, sudah cukup kan?
Berkata kalau dia sudah merelakan-mu dan sekarang adalah giliran-mu
Untuk merelakan dia.



          Lu tidak akan pernah tahu seberapa kuat diri lu sampai suatu saat lu harus menerima permintaan maaf dari orang yang tidak pernah meminta maaf pada lu karena telah menyakiti lu.

Karena memang dia tidak menyayangi lu. Dia hanya tidak ingin merasa sendiri. Atau mungkin, mungkin lu cocok untuk memenuhi ego-nya. Atau mungkin lu membuat dia merasa lebih baik dengan kehidupannya yang menyedihkan tapi dia tidak menyayangi lu sebab dia menghancurkan lu, dan tidak harusnya dia menghancurkan orang yang dia sayang.





“why do you love her?”

I don’t know,
I just love her and I want her so bad.
Make her happy is my duty.

“is that so?”

Yeah…

“seikhlas itu?”

Seikhlas itu…







Tidak ada komentar:

Posting Komentar