Rabu, 27 Mei 2020

Terdesak & Tersedak: Rasa Penasaran

Terdesak & Tersedak:
Cerita tanpa benang merah untuk ditebak,
apalagi metafora untuk disibak,
hanya sekumpulan kata abstrak,
yang (mungkin) membuat hatimu terkoyak.



Dengar ini, sebuah cerita tentang

Penolakan, Rasa Penasaran dan Ketidakpastian.





Ini Cerita tentang Rasa Penasaran.





"gak tau"


Padahal "gak tau" kan bukan jawaban?
Ini pertama kalinya aku kembali melihat dia setelah selama hampir 2 minggu kami tak bertemu.



"kenapa kita harus berpisah?"

"gak tau"

jawabnya.

"bisa gak sih ada jawaban selain gak tau.

Maksudku, tidak mungkin kita memutuskan sesuatu tanpa ada alasan kan?"

"iya benar"

"lantas kenapa harus berpisah?"

"gak tau"


Bisa gila aku dibuatnya seperti ini,
Padahal beberapa waktu yang lalu saat bertemu dengannya untuk pertama kali tak sedikitpun terlintas di benak ku akan terjadi seperti ini. Kami hanya 2 insan yang tersesat di bumi yang kebetulan menemukan satu sama lain atau jangan-jangan hanya aku yang menemukannya?
Sementara dia hanya, yuk ayo deh.



"apa yang salah dari hubungan ini?"



ayo taruhan dia pasti akan menjawab "gak tau"



"gak tau"


tuh kan gak tau lagi, apaan sih? kayak, apaan sih?
apa yang sebenarnya terjadi diantara aku dan dia?



"gak bisa ngomong lain selain gak tau?"

"bisa"

"terus kenapa kita harus pisah? apa alasannya?"

"gak tau"


Mendengar hal yang sama berulang kali rasanya seperti ada yang menekan hatimu dari dalam seperti dadamu siap meledak kapan saja karena terus menerima jawaban yang sama tanpa bertemu titik terang. Seperti mau mengumpat tapi aku tahu itu bukanlah hal yang pantas karena masih harus dipercaya segala sesuatu harus diselesaikan dengan kepala dingin.



"kamu tau kan, kalau kita bisa saling bercerita tentang apa saja?"

"iya, aku tau"

"lantas, kenapa tidak mulai bercerita?"


Dulu, saat ada masalah kami sepakat untuk menyelesaikannya dengan tuntas sebelum malam datang atau sebelum kantuk menyerang. Kenapa?
Alasannya sederhana, tidak ada masalah yang cukup pantas untuk sampai dibawa tidur.
lagipula katanya (katanya nih), hal yang terjadi sebelum tidur dapat masuk menjadi sugesti ke alam bawah sadar kita, bayangkan kalau pertengkaran menjadi sugesti kita?
jadi kami selalu menyelesaikan masalahnya sebelum tidur.


"gak tau"
jawabnya lagi.


Aku mulai ragu, jangan-jangan bukan kami yang sepakat untuk menyelesaikan masalah sebelum tidur tapi cuma aku yang sepakat dan dia hanya mengikuti apa yang aku ucapkan.

Pandangan matanya kosong menatap kearah baju yang aku kenakan, padahal tidak ada gambar apapun di bajuku hanya selembar kaos hitam yang mulai kusam, ah aku jadi ingat harusnya aku mengangkat jemuranku dulu sebelum pergi bertemu dengannya


"apa kamu tahu aku sayang padamu?"

"tidak terasa seperti itu"


Apa? Kenapa bisa?
Padahal hampir setiap saat aku selalu mengabarinya, menanyakan kabarnya, selalu memberi perhatian padanya, menjadikannya prioritas utama dalam hidupku, mendengar keluh kesahnya. Rasanya seperti aku tidak mengenal manusia lain selain dia.


"lantas, apa yang kau rasakan?"

"gak tau"


Mendengar jawabannya membuatku berpikir, seperti apa sih rasa sayang yang sesungguhnya? Hampir setiap tindakan yang aku lakukan selalu ku pikirkan dengan baik dengan mempertibangkan resiko kepada dia dan kepadaku. Hampir setiap hal yang ku lakukan untuk membuat dia senang.


"kamu selalu memperlakukanku dengan baik"

"tidak pernah marah padaku, tidak pernah egois"

"tidak pernah membentak atau bicara kasar padaku"


Aku hanya diam mendengar kata demi kata yang dia ucapkan, benar katanya aku hampir tidak pernah marah. Maksud ku, untuk apa aku membuang energi marah kepada dia? hidup terlalu singkat untuk diisi dengan emosi.


"lalu, apa yang salah dari semua itu?"

"gak tau"


Malam sewaktu ku ajak dia berpacaran denganku sebelum menjawab, dia meminta ku untuk memikirkan ajakanku itu, sempat aku bingung dibuatnya. Bersama dia adalah yang aku mau di hidup ini tapi menurutnya komitmen adalah hal yang perlu benar-benar dipikirkan.
Bukan aku yang memberi dia waktu berpikir untuk menjawab ajakanku tapi malah sebaliknya, dia yang memberi ku waktu untuk memikirkan ajakanku, apakah itu hal yang benar-benar aku mau.


"orang berubah"

"dan kita tumbuh seiring perubahan itu"


Dia dan diriku tak pernah berubah, kami tak pernah berubah, kami hanya mengungkapkan sifat asli kami seiring waktu berjalan.

Pernah di suatu waktu saat bertemu kedua orang tuanya aku berpakaian sangat rapi, bahkan lebih rapi dibanding saat menghadiri acara pernikahan kakak sepupuku tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai akrab dengan ornag tuanya seperti mereka mengizinkanku untuk menganggap rumah mereka adalah rumahku sendiri
Pernah di suatu waktu dia tak pernah mengupil didepan ku, tapi seiring waktu... jangankan upil kami bahkan beradu buang angin satu sama lain.
Lihat kan? Orang berubah, apakah sesederhana itu?


"aku tak tahu apa yang salah dariku"

"tidak ada yang salah darimu"

"lalu kenapa kamu ingin menyudahi ini?"


Dia terdiam cukup lama.
Ini bukan pertama kalinya kami bertengkar sehebat ini sebenarnya ini yang kedua. Waktu itu Ibunya masuk ke rumah sakit dan dia tidak bisa pulang kerumah karena saat itu sudah terlalu malam, tidak ada kendaraan dari kosnya untuk dipakai pulang cuma ada motorku yang sedang terparkir menungguku di gedung kampus saat jantungku berdegup kencang mendengar pengumuman apakah penelitianku untuk lulus diterima atau tidak.
Aku bisa saja pulang dan mengantarnya kembali kerumah untuk menjenguk ibunya tapi tidak ku lakukan. Apakah aku sebrengsek itu?


"kamu benar-benar terlalu baik untukku"

"itu bukan alasan, bisa saja aku jadi jahat"

"tapi tak ku lakukan, kenapa?"

"gak tau"


Pernah suatu waktu saat sedang menginap di tempatku dan menemaniku mengerjakan tugas, di jam 2 pagi dia mengangkat telepon mantan pacarnya yang sedang mabuk dan minta untuk dijemput. Tanpa meminta izin dari ku dia hanya bilang di harus menjemput mantan pacarnya itu lalu dia pergi.
Aku (mungkin) marah saat itu, kalau dia bertanya tentu tak ku izinkan tapi tentu ada alasan kenapa dia mau susah payah menjemput mantan pacarnya.


"apakah ada orang lain?"

"tidak"


Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan, yang aku inginkan hanya jawaban jujur dari dia sesakit apapun nanti ucapan yang keluar dari mulutnya.


"jujurlah, aku takkan marah"


Suatu waktu, aku memergokinya baru saja selesai menelpon mantan pacarnya, saat ku tanya ada apa, dia menolak menjawab. Aku hanya bilang aku tak suka kalau dia menyembunyikan sesuatu kemudian dia menangis. Aku maafkan apa yang dia perbuat karena akhirnya dia memberitahuku kalau dia menelpon mantan pacarnya hanya untuk bertanya soal permainan kartu yang kebetulan aku senangi untuk kado ulang tahunku.


"maafkan aku"


Matanya mulai sayu tak lagi melihat kearahku atau melihat bajuku, perlahan kepalanya tertunduk, air matanya mulai terjatuh. Dia menangis.


"jangan menangis, tak apa"

"kita sudahi saja sampai disini"

"semoga bahagia"


Kemudian aku membalikkan badanku berjalan pergi meninggalkannya yang sedang terisak, memang tak tega rasanya tapi yang aku tahu,

Kapanpun seseorang berkata maafkan aku,
Kata selanjutnya yang akan mereka katakan tidak akan pernah bagus.
(Smile Brush: Old Pictures, Ep. 23)

Aku tak lagi penasaran kenapa dia meninggalkanku dan ku harap kalian juga.
Kalian bisa saja menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi diantara aku dan dia,
atau kalian mau bertanya langsung padanya?
tapi aku tidak akan pernah bisa lagi menebak atau sampai bertanya langsung padanya,
aku tak siap dan takkan pernah siap dengan kenyataan yang akan dia utarakan.

Aku tak pernah membayangkan akan bertemu hari ini, hari dimana apa yang terjadi diantara aku dan dia harus berakhir. Dulu sewaktu ku ajak berpacaran dia bilang,


kalau mau berpacaran, harus siap putus
apakah itu yang benar-benar kamu mau?
karena komitmen, bukan hal yang main-main
sesederhana apapun bentuknya


Aku hanya tersenyum dan berkata,


Kalau suatu saat nanti kita berpisah
karena kamu akan meninggalkanku,
tolong lukai aku lebih dalam dari kenyataannya.

Sebab mendengar pernyataan kita berpisah
karena aku terlalu baik untukmu
tak lebih dari sekedar omong kosong bagiku.

Bohongi aku dengan cerita kamu dan kekasih barumu
atau tentang kamu yang tak lagi sayang padaku atau
tentang orang tuamu yang tak memberi restu, atau
dustai aku dengan selama ini sebenarnya
rasa cintamu kepadaku adalah palsu.

Dan dari semua itu akan
muncul sebuah ide yang terinsepsi di kepalaku berkata
bahwa pilihanku untuk tetap merindu berada di sisimu
adalah hal yang membuang waktu.


tapi ternyata, aku tak siap untuk kenyataan maupun untuk kebohongan.


Selesai (?)

Sampai jumpa lagi di cerita tentang Ketidakpastian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar