Minggu, 17 Juni 2018

Pria Yang Tak Pernah Bercerita


Ini adalah tulisan ke13 yang gw tulis di blog ini, bukan cerita gw tapi bukan juga sebuah fiksi tidak berarti juga sebuah kenyataan melainkan hanya sebuah curahan hati (lol, lebay amat)

Jadi ini adalah sebuah tulisan hasil perkembangbiakan dari 2 sendok gaya menulis gw, 3 centong kegelisahan di hati, 4 piring posisi liburan yang super santai, dan…

Sebuah cerita dari dia,
Dari seorang pria yang tak pernah bercerita.




“Aku pernah menulis sesuatu dan menyimpannya
di tempat yg ramai akan kertas-kertas nilaimu,
entah dimana sekarang keberadaan kertas itu.
Mungkin jadi kenangan untukku”






Baiklah, gw akan beri kalian waktu 10 detik untuk menyebut 3 tempat yang kalian rasa menjadi tempat yang menarik, luar biasa, romantic, dan paling sempurna untuk jatuh hati!


1…
2…
3…
4…
5…
6…
7…
8…
9…
10…
YAK, cukup!


Gw rasa akan banyak tempat yang terlintas di pikiran kalian dalam waktu 10 detik tadi atau mungkin gak ada satupun yang muncul di pikiran kalian?
Kalau ada yang terlintas, biar gw tebak mungkin ada yang di rumah makan, pantai, pasar malam, lapangan olahraga, studio, dan masih banyak lagi bukan?

Tapi seperti yang pernah gw singgung di tulisan gw sebelumnya (bisa kalian baca Disini)), yaitu sebuah konklusi dari apa yang gw alami, meskipun langsung dan tidak langsung yang memberi gw teori kalau “Lu bisa jatuh hati di manapun dan dengan siapapun”

Jadi, lu bisa jatuh hati, bisa tertarik sama orang entah siapapun itu dimana aja! Gak ada rumus khusus yang mendefinisikan hal tersebut, sama seperti cerita ini. Cerita yang akan dimulai dari tempat yang lu gak akan nyangka bisa buat lu jatuh hati sama seseorang, yaitu Kontrakan.

Btw, ini serius lho. Gw akan memulai kisah ini dengan bilang kalau Pria yang tak pernah bercerita ini jatuh hati pada seorang perempuan di sebuah kontrakan. Mungkin sebagian besar dari kalian akan berpikir “ha?! Kontrakan?!” dengan tone suara iklan Ramayana yang viral itu.

Tapi bagi kami terutama pria itu kontrakan ini menyimpan banyak kenangan, kenangan yang takkan bisa digantikan, beberapa cerita tentang persahabatan, perdebatan, percintaan, kejujuran dan kebohongan, permainan, gelak tawa super keras sampai hu-hu-an tangisan yang tulus dari dalam hati.
Lebih dari sebuah “kontrakan” tempat itu dapat kami sebut sebagai Rumah, kedua.

Hai adalah kata pertama yang Didi ucapkan ketika bertemu Vika, yang luar biasanya tak ditanggapi cewek berambut panjang berpipi tembam dan cantik itu, memang sih saat itu dia sedang melihat buku.

“sialan”
Gumam Didi dalam hati.

Tapi tidak ada kata-kata seperti “sombong” atau “arogan” yang menyeruak dipikiran Didi saat diabaikan Vika cuma ada “angkuh” (gak deh, bercanda kok) Didi sama sekali tidak berpikir Vika adalah orang yang seperti dan beberapa lama setelah pertemuan pertama mereka yang luar biasa itu hal tersebut terbukti.

Vika adalah orang yang easy-going, kepo (dalam konteks penasaran tapi bukan ingin mencampuri urusan orang ya!), supel, dan mudah sekali tertawa, mau sereceh apapun keadaannya. Membuat Vika tertawa adalah hal yang sederhana, sehingga tawa yang tulus itu membuat Didi jatuh hati padanya.

Meskipun mereka sering menghabiskan waktu bersama, tetapi mereka tidak benar-benar bersama bahkan “hai” dari Didi waktu itu adalah satu-satunya kata yang pernah ada diantara mereka berdua, sampai di suatu malam semua itu berubah.

Vika tidak tinggal sendiri di kontrakan itu, dia tinggal bersama 2 senior dari sekolah yang sama juga mereka semua adalah Inner circle kami, di satu malam 2 senior ini punya jadwal acara (sweet seventeen, kah?) yang mengharuskan mereka menginap.

Vika sejak awal bukan tipe orang yang suka sendirian, dia kesepian, dia perlu teman bicara akhirnya malam itu Vika mengirimkan DM melalui Instagram untuk Didi dan ini adalah pertama kalinya ada perbincangan diantara mereka semenjak “hai” yang tidak terbalas itu (yang suka Didi, yang DM duluan Vika, luar biasa.)

          Saat libur semesteran tiba, Vika balik ke kota asalnya Didi yang cemen (gw beneran hujat lu.) tidak berani melakukan apa-apa, mungkin dia terlalu takut untuk mendekati wanita, karena dia pernah ditinggal oleh kekasih lamanya (duh duh duh).

Komunikasi antara Vika dan Didi terhenti karena Didi tidak cukup berani untuk tetap menjaga hubungan antara mereka berdua, entah apa yang ada dipikiran Didi saat itu. Mungkin dia berpikir akan lebih baik jika hubungan terjalin secara verbal disbanding non-verbal. Jadi Didi berharap, ketika Vika kembali ke kontrakan dia bisa mendekati Vika, tapi…
Vika berubah.

          Saat kembali, Vika tidak bersikap seperti biasanya dia mulai menjaga jarak dan menjauh dari Didi, dia mundur secara perlahan (dikira baris berbaris kali). Sedih? Tentu iya, sedih adalah hal yang Didi rasakan, tapi jauh dari itu kesedihan yang paling dalam adalah ketika Didi tahu kalau Vika didekati oleh teman Didi sendiri dan yang lebih menyedihkan lagi, Didi menjadi orang terakhir yang tahu akan hal itu.

          Didi mundur secara perlahan, mencoba untuk melupakan karena menurutnya. Tiada yang salah hanya dia manusia bodoh, yang biarkan semua ini permainkan dia berulang kali, Didi mencoba bertahan sekuat hati bagaikan karang yang dihempas sang ombak, tapi sampai kapan dia harus menanggungnya? Kutukan ini, jadi Didi bersemayam dalam kalbu, dan melupakan Vika.

          Ketika Didi berhasil melupakan Vika, dia kembali. Kembali untuk mempertanyakan sesuatu yang membuat gw sendiri bingung, siapa yang mundur sebenarnya! Vika datang ke Didi mulai mencurahkan isi hatinya dan bertanya kenapa Didi mundur waktu itu, kenapa Didi berubah saat itu.

“Aku bodoh, yang bisa ku lakukan hanyalah menyerah”
Ungkap Didi.

“hasil dari sebuah pilihan itu hanya ada dua,
dewasalah dari pilihan yg kamu tolak dan belajarlah dari pilihan yg kamu pilih”
sambung Didi untuk meyakinkan pada Vika dan pada dirinya sendiri kalau dia tidak apa-apa atas keadaan yang terjadi ini.

          Mendengar hal itu Vika yakin untuk melupakan Didi dan mencoba membangun sebuah hubungan dengan teman Didi tapi, tidak ada kecocokan yang tumbuh diantara mereka, melihat hal ini Didi mencoba untuk memperbaiki keadaan diantara dia dan Vika.

Mereka berdua kembali (ke Denpasar dong, iya nih receh emang, maaf ya) bersama, bersama untuk saling nyaman satu sama lain. Tapi konfliknya tidak selesai sampai disitu, karena kalo selesai gw nulis apalagi dong?

Muncul konflik baru diantara mereka, sebuah masalah yang kenapa baru sekarang dipermasalahkan oleh Vika, yaitu perbedaan umur karena umur mereka berdua ternyata berbeda 100 tahun (iya nih receh emang, maaf ya)

“kenapa baru sekarang dia membahasnya?”
“kenapa menyalahkan usia ketika umur manusia tidak ada yg tahu kapan berakhir?”
“Yah aku tau aku mngkin terlalu tua untuknya nanti, tapi apa yg salah?”
“semua orang juga bakal tua kok hanya bagaimana mereka menyingkapinya”
“aku sedih aku kesal aku egois aku tidak ingin dia pergi begitu saja”

Hal-hal tersebut terngiang-ngiang mengisi kegelisahan di hati dan pikiran Didi.

Tapi aku sadar, iyah aku takut membuatmu sedih suatu hari nanti
dan membuatmu kecewa akan kekuranganku ini”

Didi merenungi hal ini selama dua hari berturut-turut, menurutnya ini bukanlah sebuah masalah ibarat kata “mempermasalahkan hal yang tidak perlu dipermasalahkan”

          Mungkin Didi tua (agak lucu sih waktu ngetik ini) dan itu membuat Vika sedih, hidup manusia itu dihitung dari pengalaman dan kenangan tetapi dia jahat tidak memikirkan perasaannya.

“ky, gw sayang sama dia bukan berarti gw harus memilikinya, karena menyayangi seseorang tujuannya untuk membuat dan melihatnya bahagia.”

“jika dia harus bahagia tapi bukan dari gw maka gw harus menyayangi dia untuk bahagia meski tidak dapat memilikinnya.”

“Karena mungkin kalo dia sama gw, gw takut dia selalu memikirkannya dan sedih.”

Gw sendiri cuma diem waktu denger Didi bilang gitu ke gw, tapi kemudian gw nanya ke dia.

“lu sayang gak sama dia?”

Didi cuma jawab “sayang”

“ya keja..”
Belom sempet gw nyelesain kalimat gw, Didi langsung memotong dengan.
“karena itu gw harus membiarkan dia sama yg lebih baik dari gw karena gw menyayangi dia”
Lalu Didi tersenyum, gw juga ikut senyum mendengar kalimat itu, kalimat yang mengikhlaskan seseorang yang kita sayang.

“gw memang sudah seharusnya sadar diri.
Siapa gw sampai berani mengharapkan sesuatu yang tak bisa gw raih?”


          “terus lu akan gimana?”
          Tanya gw.

          “Mungkin jarak yg jauh membantu gw sama dia saling melupakan.
Sekarang gw akan nyoba perlahan berjuang
untuk diri gw sendiri kedepannya nanti.
Untuk bahagia ngeliat dia pergi nanti dan juga untuk ngeliat dia bahagia nanti setelah gw sama dia berpisah jauh...
Dan suatu hari ketika gw sama
dia akan gak sengaja ketemu,
mugkin gw dan dia akan jadi dua orang yang
benar-benar asing,
saling menceritakan kisah kami”




seperti itulah cerita mereka,
sebuah kisah yang keluar dari mulut seorang pria
yang tak pandai merangkai kata, seorang pria
yang tak pandai bercerita.



“Ui Vikaa, ape kabar ka?”
Sapa Didi dengan semangat saat ketemu Vika.

“pasti kabar baek kan? Haha”

“RINGEM”

“auk, k selalu ringem kek ku, males ah”





Mungkin gw akan post tulisan asli Didi
Sebelum gw kembangin sendiri jadi post ini.
Adios...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar