Rabu, 24 Oktober 2018

Broken Smile

“kamu tahu McDonald?”
“tahu”

“kamu tahu kfc?”
“tahu juga”

“kamu tahu chatime?”
“tahulah”

“kamu tahu, kalo aku sayang
sama kamu?”
“…”

          Hai semua! Sudah sekian lama gw tidak menulis dan gw memulai tulisan ini dengan gombalan yang cheesy seperti tadi, luar biasa kan? sudah hampir 40 tahun gw tidak menulis (yakali!) hampir sebulan lebih gw tidak menulis, bukan gak menulis sih tapi lebih tepatnya gw tidak memposting tulisan gw di blog ini, kenapa? Karena males aja, alasan yang ngemalesin banget kan?




Ada beberapa tulisan yang belum selesai tapi udah gw hapus lagi, ada juga tulisan yang sudah selesai tapi tidak gw post, karena entah kenapa rasanya salah saja kalau di post.
Sejujurnya gw juga bingung mau menulis apa di tulisan ini. Pembahasan apalagi yang harus gw tuangkan disini, perasaan macam apalagi yang harus tercurahkan sebagai hitam diatas putih di postingan kali ini.

Tetapi gw tetap memutuskan untuk menulis, karena rasanya hari ini adalah hari yang tepat untuk menulis lagi dan memposting lagi. Mungkin setelah tulisan ini gw buat dan gw post, gw akan memposting tulisan lain yang sudah selesai gw buat sebelumnya.

          Jika harus ada sebuah cerita atau bahasan di tulisan ini, mungkin adalah tentang seberapa takutnya gw akan malam kenapa? Karena malam gelap, tidak ada lampu, soalnya belum bayar listrik.
Enggaklah, bercanda.
Setiap malam tiba gw selalu berpikir dan mulai khawatir.

“gimana caranya gw bisa tidur malam ini?”
Dengan merem, yaiyalah! Masa tidur buka mata, emangnya ikan?

Hampir setiap malam di beberapa minggu terakhir, gw selalu ketakutan gw tidak bisa tidur karena ada hal yang mengganjal di hati. Sebagai seorang laki-laki gw merasa diri gw cukup aneh karena gw sering mengalami mood-swing. Gw memiliki kepribadian yang mellow, gw gampang terharu dan tersentuh (harusnya).

Alasan kuat yang membuat gw tidak bisa tidur adalah karena gw memikirkan dia. Dia yang bernama bambang (yakali). Sebut saja namanya Mawar, gw begitu dekat dengan perempuan ini tapi semua berubah, kami tidak lagi dekat. Tidak lagi sedekat dulu.

Ketika kamu deket sama seseorang yang (katakanlah) kamu sayangi secara tulus sepenuh hati, kamu memberi semua hal yang kalian bisa sementara dia tidak, tapi dia menyayangi kamu. Lalu dia pergi.

                   Aku memintanya untuk tinggal
                   Tapi dia tidak mau mendengar itu,
                   Dia pergi sebelum aku punya
                   kesempatan untuk bicara,
                   kata-kata yang mungkin akan
                   memperbaiki semua ini.
                   semua yang sudah hancur berkeping-keping.
                   tapi semua terlambat, dia sudah pergi.

          Lalu disetiap malam kamu akan menangis tersedu-sedu hingga terlelap sampai tidur, lalu kamu mulai berpikir “kenapa ini harus terjadi padaku?”, kenapa semua harus begitu sulit, sulit untuk mempercayainya.
Tapi dia sudah pergi.

Akhirnya untuk mengakali hal-hal yang membuat kalian sedih dan tidak bisa tidur. Kamu melakukan banyak kegiatan yang kamu percaya akan membuat kamu lelah sehingga bisa tidur tanpa harus menangis sebelumnya.

          Setelah semua mulai teratasi, saat kamu sudah bisa tidur tenang tanpa khawatir, tanpa harus merasa sedih, tanpa harus mengeluarkan air mata sebelumnya. Kamu mulai takut untuk bangun, bukan karena kamu ingin meninggal saja, tapi karena kamu bingung pada diri kalian sendiri. kamu takut ketika kalian bangun mood kamu akan buruk lalu kamu (terpaksa) harus menjalani hari dengan bersedih.

Kamu mulai menghubungi teman-teman kalian satu per satu, siapapun itu. Kamu mulai membangun kembali kontak dengan orang-orang yang dulu sering kamu kirimi pesan hanya untuk menemani kalian.

Mereka membalas pesanmu, mereka mengangkat teleponmu namun mereka tidak bisa senantiasa terus menemanimu karena kesibukan mereka dan saat itu terjadi, kamu akan kembali bersedih.

Hal ini ibarat lingkaran setan, kamu bangun dengan ketakutan akan mood kamu yang mungkin saja membawa kamu untuk bersedih dan merasa kesepian lalu kamu akan mencari orang-orang yang bisa menemanimu melalui telpon atau berbalas pesan tapi tidak setiap waktu mereka bisa dan kamu akan kembali sedih dan merasa sepi.

Semua akan terus terulang seperti itu setiap hari lalu sampai akhirnya suatu waktu seorang teman berkata,

                   Lu harus menikmati kesendirian lu,
                   Lu harus bisa nyaman sendiri,
                   Tanpa siapapun disamping lu.

Lalu diakhiri dengan kalimat,
                  
                   Lu harus mencintai diri lu sendiri,
                   Sebelum bisa mencintai orang lain (lagi).

Setelah mendengar itu, kamu akan menolak mentah-mentah kata bijak itu dan berkata pada diri sendiri “omong kosong” tapi eh, ternyata tidak benar.

Kamu melalukan saran dari temanmu, kamu mulai memperbanyak kegiatanmu bukan untuk membuatmu lelah agar bisa tidur, tapi untuk menikmati waktu kesendirianmu.
Kamu tetap menelpon dan berkirim pesan dengan orang-orang yang kamu kenal, tapi bukan untuk menemanimu agar tidak merasa kesepian lalu sedih melainkan untuk tahu apa kabar mereka.

Kamu mulai sembuh dari sakit hati itu,
kenapa tiba-tiba jadi sakit hati? Bodo amat yang penting tulisannya jalan sampai sini.

          Saat kamu mulai merasa sembuh merasa tidak kenapa-kenapa lagi, perasaanmu mulai pulih tapi kamu melihat dia dan hatimu bertanya-tanya, “apakah kamu masih menyayangi dia?”

Kamu mulai kembali bicara dengannya ketika dia mulai bersikap baik lagi denganmu, ketika dia mulai berteman lagi denganmu, ketika dia mulai menghabiskan waktu lagi bersamamu.
Kamu mulai bingung dengan perasaanmu padanya, yang jika tak bertemu kamu akan rindu dan jika bersama akan bahagia.

Tapi kamu sadar…
Saat hati mu merasa sembuh, ada beberapa waktu kamu akan merasa merindukan mereka. Kamu akan mencari foto mereka tapi bukan di galeri hp-mu karena mungkin sudah kamu hapus, tapi kamu mencarinya di google drive karena kamu menyimpannya disitu.

Atau kamu mulai membuka ruang obrolan antara kamu dan dia di Line, lalu mulai membaca pesan-pesan lama kalian yang mungkin lupa kamu hapus semua itu mulai mengingatkanmu pada satu hal.

Di suatu titik tertentu, kamu berharga bagi dia dan itu bukanlah kebohongan karena memang benar adanya di titik itu hanya kamu yang dia pikirkan.
Karena saat itu bagi dia, kamu benar-benar penting.

Tapi semua berubah dan kamu sadar, dia takkan bisa bersamamu.







There must be an angel with a smile on her face
When she thought up that I should be with you
But it's time to face the truth
I will never be with you.





Mawar-nya kemana?
Kami LDR-an, gw di Jakarta...
dia dipelukan orang lain.
Yhaaa!
#2019TetapReceh 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar