“tahu apa yang lebih sakit dari patah hati?”
“apa?”
“patah leher”
“dih, serius!”
“gak deh, bercanda kok. Hahaha…
…yang lebih sakit dari patah hati adalah ketika lu melakukan
banyak hal demi dia, selalu ada untuk dia, memenuhi keinginan dia dan takkan
pernah pergi dari dia tapi dia cuma bertanya ‘apa gw pernah minta lu gitu ke
gw?’ “
“itu mah bukan patah lagi, itu hancur udah”
“hahaha, iya hancur banget”
“terus gimana?”
“harus belajar,
… belajar ikhlas”
Lu
sedang duduk berdua dengan pujaan hatimu direstoran kesukaan kalian, restoran
ramen kesukaan kalian. Bukan kesukaan kalian sih, tapi kesukaan dia. Sebagai
sebuah restoran favorit kalian, restoran ini gagal kenapa? Karena kalian jarang
makan disitu, tapi dia sering hanya saja bukan bersama lu.
Lu yang sedang ditunggu-tunggu
oleh dia yang sudah tau apa makanan yang akan dipesannya, lucu sekali bukan?
Ketawa dong, dia sudah tau menu apa yang akan dipesannya sedangkan luu masih bingung
dengan apa santap malam lu hari itu.
Kedua
makanan kalian sudah diantar di meja makan, tak ada kata yang keluar dari mulut
kalian karena hubungan kalian yang sudah merenggang, begitu canggung, begitu
dingin rasanya.
Sampai akhirnya di
suapan terakhir, kalian terdiam bergantian meminum minuman yang free refill itu, ocha free refill yang mengalir turun melalui
kerongkongan dan melepas dahaga kalian, lalu pada akhirnya dia membuka
pembicaraan.
“jadi, gimana lu sama yang baru?”
Lu bingung, apanya
yang baru? Sepatu lu? Jam tangan lu? Atau baju baru lu?
“apanya yang baru?”
“ya, gebetanmu itu lho, gebetan baru
mu!”
“oh.. gak ada, gak ada deket sama
siapa-siapa”
Tidak banyak hal yang
lu katakan setelah itu, untuk ukuran orang yang selalu bicara dan banyak
bicara, saat itu lu cuma diam karna ingin mendengar banyak dari dia.
Mendengar cerita
yang keluar dari mulutnya seperti mengoyak-oyak hati lu, kenapa? Karena cerita yang
disampaikan dia adalah tentang orang lain yang begitu beruntung menurut lu
karena bagi dia, orang itu…
Orang
yang tak pernah dia miliki,
tapi di
hatinya orang itu selalu hidup.
Mau seperti apa lagi
usaha lu mengalahkan orang itu? Bertapa sampai ujung bumi? Bumi kan bulat!
Gimana bisa ada ujungnya! Dengan kata lain, lu akan kalah sekuat apapun lu
mencoba, adil sekali bukan?
Tak ada kegiatan berarti yang bisa lu
lakuin untuk melawan kenyataan ini, lu cuma bisa terdiam mendengar kata demi
kata yang keluar dari mulutnya yang menceritakan seberapa hebatnya orang ini
melukai dia, meninggalkan dia dalam sebuah lubang luka, padahal ada lu yang
bisa menyayanginya.
Lu cuma diam, lu
tidak melakukan apa-apa bukan karena lu takut.
Tapi di matamu,
Dia memang sudah baik-baik saja tanpamu.
Kamu
berdoa untuk kebahagiaan dia,
Dengan rela-nya
kamu duduk berdua dengannya,
hanya
untuk mendengar dia bercerita
tentang orang lain.
Begitu
ikhlas dirimu menyayanginya.
Lalu setelah serusak itu, sesakit itu
atau bahkan sepatah dan sehancur itu kenapa dirimu masih bertahan? Bodoh kah
dirimu? Atau apa?
Karena selalu ada
sebuah perkataan atau frasa,
“jangan pernah menyerah, kenapa?
Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi
besok”
Itu adalah omong
kosong yang selalu lu telan setiap kali lu merasa sakit, seolah bumi isinya
hanya dia saja. Sebuta itukah anda?
Kadang disuatu waktu lu akan bertemu
dengan seseorang dan terlihat begitu jelas kalau kalian berdua memang
ditakdirkan bersama entah itu sebagai pasangan, sebagai teman atau sebagai keluarga
atau memang sebagai sesuatu yang berbeda dari ketiga hal itu, sesuatu yang jauh
lebih buruk.
Lalu kemudian yang
kalian lakukan hanyalah berusaha, entah itu berusaha untuk mengerti satu sama
lain , berusaha untuk menyayangi satu sama lain sampai menjadi duo
seperjuangan.
Lu akan bertemu
dengan orang-orang seperti ini disepanjang hidup lu, muncul dari mana aja, dan
di kondisi seaneh apapun. Meskipun begitu yang pasti orang-orang ini akan
membuat lu merasa begitu hidup!
Jujur, gw gak tau
hal itu membuat gw percaya sama yang namanya kebetulan, takdir, atau cuma
ketidaksengajaan. Tapi yang pasti orang-orang seperti ini membuat gw percaya
pada sesuatu, entah apa itu.
Sayangnya, sebegitu sayangnya seperti
diejek kehidupan, timing tidak pernah
berpihak pada lu. Lu terus bilang sama diri lu sendiri kalau kalian berdua
ketemu di waktu yang salah, mungkin satu tahun satu hari lagi dari sekarang lu
berdua akan ketemu di sebuah café yang nun jauh di sana dan cuma jualan kopi, dan
lu berdua memulai ulang dari awal lagi.
Mungkin
bukan satu tahun lagi tapi mungkin 5 tahun lagi, jalan lu sama jalan dia akan kembali
bersimpangan lalu lu akan memberi tahu dia pernah suatu waktu seberapa jatuh
hatinya lu sama dia. Dan kalian berdua akan mentertawakan tentang bagaimana
kalian menyakiti satu sama lain.
Lu tidak kehilangan
dia, karena lu tidak pernah memiliki dia, sesederhana dan semenyakitkan itu. Meskipun
lu berpikir dia-lah orang yang lu cari-cari, dia-lah orang yang lu
tunggu-tunggu.
Seorang teman pernah berkata seperti
ini pada kesayangan-nya.
“mungkin,
saat ini gw terlihat
seperti berhenti mengejarmu.
Tapi
sejujurnya dari lubuk hati yang paling dalam,
gw masih peduli.
Begitu sakit
rasanya ketika tahu
kalau lu tidak bisa jadi milik gw.
Tapi,
Tahu kalau
lu gak akan bahagia sama gw,
jauh lebih sakit rasanya.
Gw berharap
lu bahagia.
Gw berharap semua hal terbaik untuk lu.
gw akan
menepati janji gw
dan gw akan kembali ketika saat itu tiba,
atau, lu
bisa duluan kembali ke gw.”
Lu akan begitu berharap dia berubah
untuk lu, menjadi milik lu lagi sehingga lu akan terus-terusan menggenggam erat
hal yang begitu menyakitkan bagi lu hanya karna lu akan berlandas pada “suatu
saat nanti”.
Coba dipikir, kalau
lu memang penting baginya tidak perlu lisan-mu meminta dia berubah. Dia akan
berubah dengan sendirinya untuk menjaga lu disampingnya, dia akan berubah tapi
bukan untukmu bukan juga denganmu.
Lalu jika akhirnya lu memutuskan untuk
menyerah, Apakah dia akan merasa begitu kehilangan? Apakah dia akan merasa lu
pernah begitu menyayanginya? Saat ini lu tidak tahu mana yang lebih
menyakitkan, Kembali bertemu dengannya atau tidak bertemu dia sama sekali.
Karena saat lu
merasa lu sudah move on melupakannya,
ada di satu titik ketika lu berkumpul bermain bersama teman-teman lu. Mereka tiba-tiba
bertanya hal yang absurd.
“kalau
Tuhan mengabulkan
satu keinginan lu sekarang.
Apa yang
lu minta?”
Dan lu akan minta
dia kembali pada lu.
Akhirnya, kamu akan menarik nafas begitu panjang
Bertanya pada diri sendiri, sudah cukup kan?
Berkata kalau dia sudah merelakan-mu dan sekarang
adalah giliran-mu
Untuk merelakan dia.
Lu tidak akan pernah tahu seberapa
kuat diri lu sampai suatu saat lu harus menerima permintaan maaf dari orang
yang tidak pernah meminta maaf pada lu karena telah menyakiti lu.
Karena memang dia
tidak menyayangi lu. Dia hanya tidak ingin merasa sendiri. Atau mungkin,
mungkin lu cocok untuk memenuhi ego-nya. Atau mungkin lu membuat dia merasa
lebih baik dengan kehidupannya yang menyedihkan tapi dia tidak menyayangi lu
sebab dia menghancurkan lu, dan tidak harusnya dia menghancurkan orang yang dia
sayang.
“why do you love her?”
I don’t know,
I just love her and I want her so bad.
Make her happy is my duty.
“is that so?”
Yeah…
“seikhlas itu?”
Seikhlas itu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar