Selasa, 26 Mei 2020

Terdesak & Tersedak: Penolakan

Terdesak & Tersedak:

Cerita tanpa benang merah untuk ditebak,
apalagi metafora untuk disibak,
hanya sekumpulan kata abstrak,
yang (mungkin) membuat hatimu terkoyak.



Dengar ini, sebuah cerita tentang

Penolakan, Rasa Penasaran dan Ketidakpastian.





Ini Cerita tentang Penolakan.



Penolakan? Ha! Hampir tidak pernah ada kata seperti itu di dalam diri Austin yang selalu senang sendiri dengan hidup dan pilihannya seakan-akan dari setiap tindakan yang dia lakukan akan berbunyi seperti,



Emangnya gua minta makan sama lu?

Sampai harus mikirin akibat tindakan gua ke perasaan lu?


Jahat? Egois? Tidak.
Bagaimana kalau apa yang dia lakukan dan yang dia pilih sebisa mungkin tidak merugikan orang lain. Persetan apa kata orang yang penting mereka tidak rugi karena apa yang sudah dilakukan.
Dia sepertinya adalah sosok yang tepat untuk dijadikan sebagai contoh hidup bagaimana kita harus 


Mencintai Diri Sendiri


lalu apa hubungan antara penolakan dengan Austin yang mencintai dirinya?

"Pria itu harus punya prinsip..."
jawabnya saat mencoba mejelaskan apa itu Mencintai Diri Sendiri.

"Kalau tidak kaya, tidak tampan, atau tidak pintar,
lalu bagaimana seorang perempuan bisa mau jatuh hati padamu?"


"Pria itu harus punya prinsip,
buat apa menyusahkan diri untuk orang yang bahkan tidak mau melihat kita?"


Iya, Austin adalah orang sangat berprinsip. Dia memegang teguh prinsipnya seperti anak kecil  dengan hati kacau sembari memegang 4 balon dengan begitu erat setelah balon hijau miliknya pecah.
Prinsip paling kuat yang dia miliki salah satunya terdapat di seputar kehidupan romansa yang dia jalani selama ini yang membawanya bisa dekat dengan banyak sosok cantik nan menarik.
Memangnya secantik apa sih mantan gebetan atau mantan pacar Austin?
Aduhai~
Biarkan ini yang berbicara,


Percayalah,
banyak sekali pria yang rela
membunuh satu sama lain
demi mengencanimu.


lantas bagaimana Austin bisa dekat dengan perempuan-perempuan yang menarik dan cantik dan hidup dengan tanpa penolakan?

"Pria itu harus punya prinsip, buat apa menyusahkan diri untuk orang yang bahkan tidak mau melihat kita? Kalau memang orangnya tidak tertarik dengan kita bahkan tidak suka yasudah tinggalkan saja!"


"Kenapa harus berpura-pura cinta atau setia
kalau kenyataannya nama dia tidak lebih dari sebuah kata untuk kita?"


Menolaklah sebelum ditolak, maka penolakan itu tidak akan terjadi pada dirimu.
Bukannya tak mau setia tapi buat apa terus bertahan untuk orang yang tak pernah mengira kita ada?

Saat menjalani cerita romansanya, Austin terus berpegang teguh pada prinsipnya untuk melupakan orang yang memang tidak tertarik padanya jadi dia akan lebih dulu meninggalkan orang tersebut sehingga penolakan itu tidak pernah terjadi didalam hidupnya atau hampir tidak pernah.

Seperti anak kecil memegang 4 balon dengan erat setelah balon hijau meletus,
Austin berpegang teguh pada prinsipnya.
Tetapi seperti anak kecil pula yang ceroboh,
di suatu waktu Austin secara tidak sengaja melepas prinsipnya.

Perkenalkan,
Namanya Olivia seorang perempuan berparas cantik, rambut hitam sebahu terlihat selalu rapi, mata coklat pekat, dengan senyum gingsul yang aduhai~ bisa diabetes mungkin dibuatnya.
Dia tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu gemuk, semua nampak pas saat melihat Olivia.
Lucu? Imut? Menggemaskan? hahaha tak ada kata yang pas untuk menggambarkan Olivia,
Bukan karena potret dirinya tidak menyanggupi itu kata-kata itu tapi seperti hal yang sangat tidak cukup jika hanya memanggilnya lucu, imut ataupun menggemaskan, dia lebih dari sekedar itu semua.

Malam itu, acara ulang tahun sekolah Austin sedang berlangsung. jarang bagi Austin untuk menghadiri sebuah acara sosial, apalagi itu acara ulang tahun sekolahnya. Dia tidak terlalu terkenal namun juga tidak terlalu culun pula, seperti ya.. anak rata-rata. too cool to be nerd yet too nerd to be cool, mungkin seperti itu.

Austin datang cukup telat jadi ketika semua teman seumurannya sudah duduk dan menyatap hidangan di area khusus angkatannya, Austin masih celingak-celinguk mencari harus kemana kah dia berjalan, akhirnya dengan langkah kikuk dan canggung dia melihat satu per satu side-dish yang disajikan.

Saat mata Austin terarah fokus kepada potongan kambing guling yang baru saja disajikan dipiring dia tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan dari arah depan, keduanya terjatuh.

Siapakah sosok itu?
Apakah dia Olivia?


Ah, hidup tak perlu sedrama itu.


Austin hanya tidak sengaja menabrak seorang laki-laki yang mungkin 3-4 tahun lebih mudah darinya, anak SMA? mungkin adik kelasnya yang kebetulan menjadi panitia acara tersebut. Untung saja bukan kuah kari yang membuat mereka berdua mandi, hanya sekumpulan kotak tisu yang berserakan yang punya utang untuk segera dibereskan.
Setelah membantu laki-laki tersebut membereskan tisu, Austin meminta maaf dan segera bergegas pergi? atau malah...

Sejujurnya, pertemuan Olivia dan Austin tidak se 500 Days of Summer atau tidak se Twilight atau se The Notebook. Teman, ini kisah nyata jadi jangan terlalu menyinetronkan hidupmu.

Hanya sesederhana,
"Hey, panitia ya? Ehm, WC-nya dimana ya?"

Saat Austin bertanya kepada (lagi-lagi) bukan Olivia tetapi pada seorang panitia, di saat orang tersebut menjelaskan jalan menuju arah WC, pandangan dan perhatian Austin dirampas oleh sesosok perempuan berparas cantik, berambut hitam sebahu dengan mata coklat pekat, dan senyum gingsul yang aduhai~ bisa diabetes mungkin dibuatnya.
Saat itulah Austin melihat Olivia, Perempuan yang sebentar lagi akan muncul namanya di daftar  menyerang titik pertahanan dia dan sebentar lagi membuat Austin menjadi lelaki yang paling tidak berdaya.

Tidak sulit bagi Austin memperoleh Instagram Olivia, panitia yang tadi selain menunjukan jalan ke arah WC juga menunjukan jalan untuk Austin memulai petualangan cintanya, uhuy!
Saat mendapat username Instagram Olivia, keraguan mulai meliputi pikiran Austin haruskah dia mendekati Olivia melalui Instagram?

Sembari duduk di area khusus dan meminum "boba-bobaan" yang disediakan dengan seksama mata dan jari Austin memperhatikan satu per satu postingan yang ada di feeds Olivia,
makin lama diperhatikan, makin cantik rasanya.
makin lama diperhatikan, makin tertarik rasanya.


Semakin Lama, Semakin Gila
Semakin Lama,
Semakin Cinta Aku Dibuatnya


Tak terasa, seperti disihir jemari Austin bergerak sendiri menekan salah satu foto yang ada, Plop!
Tanda hati merah muncul ditengah-tengah.
Oh sial! Itu foto Olivia 2 tahun yang lalu, ketahuan stalking?
Akhirnya tombol biru berubah menjadi putih, membuat kata follow menjadi followed.

Setelah acara selesai Austin kembali kerumahnya, jam menunjukan pukul 11 malam, gila!
untuk Introvert bagi Austin bercengkrama dan mengobrol selama hampir 1-2 jam membuatnya lelah. Direbahkanlah tubuhnya diatas kasur empuk yang siap menyantap Austin yang sebentar lagi tertidur lelap.

Notifikasi dari handphone Austin berbunyi.
PING!
[Olivia has followed you]

PING!
[Olivia replied to your story: enak gak nih?]


enak gak nih?
11:08 P.M

eh, enak kok! 
Read 11:09 P.M

yang bener? itu dari booth gue lho!
11:17 P.M

serius? kok gak lu tadi?
 Read 11:18 P.M

harusnya gue sih, tapi tadi bantu temen susun tisu.
eh, alumni ya? apa emang dateng main aja tadi?
11:26 P.M

iya nih gue alumni, lu panitia disana ya?
Read 11:27 P.M

PING!
iya, haha... besok dateng lagi gak?
11:35 P.M

Austin melihat pesan yang dikirimkan Olivia tapi tidak dibukanya dia memutuskan untuk tidur saja biar besok ada alasan untuk "eh sorry, kemarin gue ketiduran"  lalu melanjutkan chat mereka lagi, uhuy.
Besoknya Austin membalas pesan Olivia tetapi saat sedang duduk di ruang tunggu bandara, sayang sekali Austin harus kembali masuk kuliah tanpa sempat bertemu Olivia lagi.

Sejak saat itu, mereka sering reply Insta-Story satu sama lain, sedikit berbincang-bincang tapi selalu chat mereka diakhiri dengan Olivia berkata "okay, hehe" atau "yaa... haha" atau "hehe"
Bagi Austin, kalau memang sama-sama tertarik bukankah harus saling cari topik?

Beberapa minggu setelahnya, Austin melihat sesosok lelaki di Insta-Story Olivia terasa familiar.
Ah! itu lelaki yang tak sengaja menabrak Austin saat di acara pesta ulang tahun sekolah kemarin.
Tapi rasanya ada yang tidak beres, tidak seperti biasanya Olivia mengupload foto laki-laki di Insta-Story.
Eh beneran deh, yang gak beres ternyata laki-laki tersebut adalah pacar Olivia.
Mereka merayakan Sweet 1st Anniversary mereka.


Ada yang sakit tapi tak berdarah
yang tak diketahui asalnya.


Austin hanya terdiam,
Tak dapat diutarakan kata yang paling sakit.
Dia telah kalah, jatuh pada orang yang sudah memiliki indah.
Nafasnya terasa sesak, jantungnya berdegup kencang.

Haaa...
dia menghela nafas.


Ini bukan cerita yang kita minta


Pernah di suatu waktu di masa sekarang,
Setelah Olivia sudah tak lagi bersama pacarnya,
Dia dan Austin kembali sering berbagi cerita tentang
bagaimana brengseknya lelaki itu memperlakukan Olivia.

Pernah (juga) di suatu waktu di masa sekarang,
Austin dan Olivia kembali menjadi dekat
Walau hanya dari Instargam dan WhatsApp.

Pernah (juga) di suatu waktu di masa sekarang,
Saat mereka berjanji untuk bertemu,
Olivia membatalkan janjinya,
sementara Austin sudah menunggu di sebuah restoran dengan sop buah.

dan pernah di waktu itu,
Austin melihat Olivia berjalan dengan
lelaki brengsek yang telah meninggalkannya.

Entah siapa yang brengsek, entah siapa yang bodoh.
Balonnya pecah kembali tapi lucunya saat Olivia datang ke kehidupan Austin meminta maaf dan memberi penjelasan tentang apa yang terjadi.

Dengan lapang dada Austin mendengarnya,
Dengan lapang dada Austin tersenyum menerimanya.


Aku takkan pergi,
Selesaikanlah masalahmu lalu kembalilah.
Aku tetap ada disini.


Bagi Austin,
sekarang cukup dengan penolakan, saatnya penerimaan dengan ikhlas.
Menariknya dia melepas Olivia cukup jauh untuk bisa kembali karena sejujurnya, Austin sendiri tak pernah beranjak pergi, dia hanya memberi waktu untuk Olivia agar bisa berpikir sendiri untuk yakin dari lubuk hati.
Saat mereka dekat kembali di masa sekarang, semuanya dimulai dengan penerimaan lapang dada,
dimulai dengan keikhlasan tentang ditolak, dan dimulai dengan tulus dan jujur.

Dikutip langsung dari ucapan Austin,


Dia ada di garis jodohku,
sampai bulat manapun 'kan ku kejar


dan Austin berjanji untuk segera menemui Olivia,
Sang pujaan hati Nanti,
Di akhir minggu pertama bulan Juni.

Selesai (?)

Sampai jumpa lagi di cerita tentang Rasa Penasaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar